Ketika aku tau apa yang aku jalani
adalah sebuah kesalahan dan suatu hal yang di larang oleh Allah, ketika aku
tahu ini bukanlah cara yang dibenarkan oleh Allah untuk menyikapi anugrah rasa
yang diberikan oleh-Nya, namun disisi lain aku tidak rela untuk mengakhiri
semuanya, aku tidak rela untuk menghentikan semua komunikasi yang bersifat
“continue” ini, aku tidak rela untuk mengakhiri kebahagiaan dengannya saat ini,
aku tidak rela untuk mengakhiri rasa nyamanku saat ini, aku tidak rela untuk
kehilangan sikap baiknya dan perhatiannya yang saat ini membuatku sangat
nyaman. Intinya, aku tidak bisa untuk merelakan dan menyuruhnya pergi untuk
saat ini. Bukan bukan tidak, tapi belum bisa.
Ya, aku tau aku salah, aku yang
kurang membentengi diriku, aku yang membiarkan dia masuk kembali ke kehidupanku
padahal dia sudah bertahun-tahun menghilang, dan aku sudah bertahun-tahun pula
menghilang dari hidupnya, aku sudah bertahun-tahun menghindar layaknya orang
tak saling kenal ketika berpapasan, aku yang gampang baper, aku yang
terlalu mudah nyaman, aku yang terlalu mudah luluh. Namun, akupun sama dengan
wanita lainnya, yang mudah terbawa perasaan. Aku masih abg biasa yang masih labil,
yang perasaannya mudah luluh dengan sikap baik seseorang. Aku belum bisa sampai
pada titik wanita shalihah yang bisa menjaga hatinya, aku belum bisa, aku masih
sama dengan remaja lain, aku belum bisa untuk jadi beda..
Dan ketika aku tau semua sikap yang
aku ambil ini adalah sikap yang salah untuk menyikapi sebuah rasa, aku harus
berani mengambil langkah untuk menjauh, aku harus berani mengambil langkah
untuk merelakan semua kenyamanan itu pergi, aku harus belajar merelakan
kehilangan semua perhatiannya semua sikap baiknya, aku harus merelakan diserang
sakitnya merindu namun tak bisa tersampaikan, aku harus merelakan kesepian
menyerang disaat sendiri, aku harus merelakan hati ini sakit untuk sesaat, aku
harus mulai menyibukkan diri lagi, aku harus mulai terbiasa tak ada yang
mencari lagi, aku harus mulai terbiasa untuk tidak ada yang mengingatkan lagi,
aku harus mulai terbiasa tidak ada yang mengucapkan selamat pagi&selamat
tidur lagi, aku harus mulai belajar mencintai dalam diam, merindu lewat do’a,
aku harus belajar menjaga hati. Dan mungkin di akhir aku harus merelakan jika
kelak dia bukanlah jodohku. Pada akhirnya cinta itu tentang menghalalkan atau
mengikhlaskan, kamu yang sering aku ceritakan di tahun 2015-2016 ini aku tak
tahu, apakah akan berakhir menghalalkanku, atau mengikhlaskanku. Allah lah Yang
Maha Tau. Ku titipkan kamu kepada Allah-ku, biar Allah yang atur skenarionya,
Dia-lah Yang Maha Pembolak-Balik Hati, Dia-lah pemilik semuanya. Pada akhirnya
semua akan kembali kepada-Nya karena apa yang Allah kasih sekarang hanya di
pinjamkan, bukan sepenuhnya milik kita.
Terimakasih atas segalanya, Maafkan semua kesalahanku. Semoga kita bisa sama-sama mengambil pelajaran dari semua yang terjadi, terimakasih sudah hadir dan memberikan beberapa percik warna di hidupku. Terimakasih sudah pernah datang-hilang-datang lagi. Semoga kelak kita bisa dipertemukan lagi di waktu yang tepat, dan perasaan yang tepat. Karena jika kita berjodoh, sejauh apapun jarak memisahkan, sejauh apapun melangkah pergi, sejauh apapun mencoba menjauh Allah akan membawamu kembali kepadaku dengan cara-Nya yang sangat indah dan tak terduga, namun jika kamu bukan jodohku, sekeras apapun kita berjuang, sekeras apapun kita mendekat kita tidak akan pernah bersatu dalam ikatan yang di ridhai-Nya :’) Semangat memperbaiki diri! Semoga Allah mengizinkan kita bertemu di waktu yang baik, saat diri ini sudah sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin :)

Komentar
Posting Komentar